Alang Alang dan Daun Opo Opo



Alang-alang adalah tanaman yang sudah tak asing bagi masyarakat, sudah sejak lama masyarakat mengenal alang-alang sebagai obat tradisional. Namun masyarakat Jawa tak hanya mengenal alang-alang sebagai obat tradisional,  masyarakat Jawa kerap menggunakan alang-alang dan daun opo opo dalam upacara dan tradisi keagamaan.

Bagi sebagian orang, daun opo opo sering dianggap gulma, karena tumbuhan ini biasa tumbuh liar di pematang sawah. Dalam mitologi Jawa, penggunaan daun alang-alang dan daun opo opo dimaksudkan agar orang yang melakukan ritual terhalang dari suatu masalah atau dalam bahasa Jawa "tanpo alangan suatu opo opo" .

Kepercayaan ini sudah lama diyakini masyarakat secara turun temurun dari generasi ke generasi. Menurut Imam Mushola Darussalam Desa Kramat, Sobirin (64), budaya ini sudah ada sejak Walisongo, ia meyakini budaya menggunakan tanaman alang-alang dan daun opo opo lahir dari akulturasi yang dilakukan para Walisongo. 

Tradisi mengunakan alang-alang dan daun opo opo juga dilakukan saat ada gerhana matahari ataupun gerhana bulan. Masyarakat Jawa biasanya membuat sego kendil untuk dimakan bersama-sama setelah melaksanakan


sholat gerhana, dalam sego kendil tersebut terdapat beragam uborampe yang khas.

Sego kendil adalah nasi yang dimasak dalam kendil atau tungku. Sego kendil dilengkapi dengan tujuh sayur pelengkap dan dua telur sebagai lauknya serta sambal kukusan, tak terlewatkan daun opo opo dan alang-alang juga direbus bersama dengan sayur dan dihidangkan dalam satu kendil.

Sego kendil merupakan akulturasi tradisi Jawa kuno yang ketika ada gerhana matahari masyarakat berkumpul di perempatan desa untuk makan bersama. Saat Walisongo datang, kebudayaan tersebut tetap dipertahankan dengan merubah tempatnya, yakni di mushola atau masjid untuk melaksanakan sholat gerhana dan khotbah seperti saat ini.

Dalam perkembangannya, tradisi penggunaan alang-alang dan daun opo opo dalam sego kendil semakin tergerus. Sulitnya menemukan daun tersebut dan adanya penanak nasi yang lebih praktis, membuat masyarakat memilih menggunakan penanak nasi dan menyajikan sego kendil tanpa alang-alang dan daun opo opo.

Komentar